29/04/11

Mengerikan, Terima Cangkok Wajah Dari Mayat


CLEVELAND  Luka-lukanya sangat mengerikan. Dia tak punya hidung dan tak punya langit-langit mulut, sehingga perempuan itu tak bisa makan ataupun bernapas dengan normal. Wajahnya begitu buruk sehingga anak-anak yang menatapnya langsung berteriak dan berlari menjauh.
Kerusakan wajah yang amat parah itu membuat Dr Maria Siemionow menduga bahwa perempuan itu akan menjadi orang pertama di Amerika Serikat yang menjalani transplantasi wajah. Hal itu sudah ia prediksikan sejak awal, tepatnya sejak mereka bertemu pada awal 2008.
Connie Culp terpilih sebagai pasien pertama di Amerika Serikat (AS) yang menjalani operasi cangkok wajah. Ini tak lepas dari peran dr. Maria Siemionow, direktur penelitian operasi plastik rumah sakit di kota Cleveland dan kepala pelatihan operasi mikro. Dia memiliki pengalaman lebih dari 20 tahun dalam melakukan bedah transplantasi kompleks.
 

Pada tahun 2004, Siemionow mencari kandidat tepat yang memiliki alasan tepat untuk menjalani cangkok wajah. Sejumlah pasien yang diwawancara untuk operasi mengatakan kalau mereka ingin berjalan di tempat umum tanpa merasa aneh.
 

"Mereka hanya ingin memiliki wajah normal," kata Siemionow dalam konferensi pers Selasa lalu, seperti dikutip dari laman stasiun televisi CNN.

Tim dokter memeriksa sejarah para kandidat pasien, motivasi, dan kemampuan untuk memahami risiko transplantasi. Akhirnya, mereka menemukan Culp sebagai kandidat ideal. "Masyarakat menolak dia dan anak-anak takut melihat wajahnya," kata Siemionow yang memimpin tim dokter dalam operasi transplantasi Culp.
 

Culp adalah seorang ibu dari dua anak dan seorang nenek. Dia memberi tahu tim dokter bahwa dia dapat memahami mengapa beberapa orang dewasa menghindarinya. "Namun yang benar-benar terasa mengganggu adalah anak-anak yang lari ketakutan setelah melihat wajah Culp.

Hasil CT scan menunjukkan tengkorak Connie Culp sebelum (kiri) dan sesudah menjalani operasi cangkok wajah (AP Photo)

Tim dokter di Klinik Cleveland Clinic menganalisis luka-luka di wajah Culp menggunakan scan CAT dan membuat pula tengkorak Culp dari bahan plastik. Culp bertemu dengan para ahli bedah, anggota kelompok etika, psikiater, dan psikolog yang menentukan bahwa Culp adalah kandidat ideal untuk operasi. Lalu, mereka menunggu donor yang mereka dapatkan pada 2008.
 

"Kami kira kami harus menunggu lama karena kami harus menemukan perempuan kulit putih berusia di pertengahan 40-an yang cocok dengan Connie, jadi kami pikir butuh waktu satu tahun untuk menemukannya," kata salah seorang anggota tim dokter.
"Ternyata, tiga hingga empat bulan kemudian, saya ditelpon tengah malam oleh Dr. Siemionow yang bilang, 'Saya kira kita sudah punya donor'," lanjutnya. Keluarga pendonor seorang perempuan yang telah meninggal mengizinkan wajah anggota keluarga mereka digunakan.
Namun, jati diri perempuan itu dirahasiakan sepenuhnya. "Pasien kami meminta namanya dirahasiakan dan dia minder," kata Siemionow, yang memimpin operasi transplantasi wajah sekitar dua pekan lalu itu. "Anda membutuhkan sebuah wajah untuk menghadapi dunia."
Selain merahasiakan nama dan umur pasien itu, Cleveland Clinic juga tak mengungkap bagaimana perempuan tersebut mengalami cedera yang merusak sebagian besar wajahnya. Dia juga tak muncul dalam konferensi pers di rumah sakit.

Dalam keterangan pers tersebut, Siemionow menyatakan prosedur pengangkatan dan pemindahan wajah berlangsung selama 22 jam. Sekitar 80 persen wajah pasien diangkat dan digantikan dengan tulang, otot, saraf, kulit, pembuluh darah, dan gigi yang diambil dari seorang perempuan yang meninggal dunia beberapa jam sebelumnya.
 

Walaupun baru pertama kali dilakukan di Amerika, ini adalah transplantasi wajah keempat di dunia, meski tiga operasi sebelumnya tak sebesar apa yang dilakukan tim bedah Cleveland Clinic itu. "Dia sangat bahagia ketika meraba wajahnya dengan kedua belah tangan. Dan dia merasakan hidung dan rahang yang kini dimilikinya," kata Siemionow. "Dia ingin pergi ke luar rumah tanpa menarik perhatian orang di tengah kerumunan."
 

Kondisi pasien itu amat bagus dan tubuhnya tidak memperlihatkan tanda-tanda penolakan. "Dia masih di bawah pengaruh obat penenang dan tidak bisa berbicara banyak. Sebagian besar komunikasi dilakukan lewat tulisan," kata dokter 58 tahun itu.

Para dokter yakin perempuan itu bisa berbicara, makan sendiri, dan bernapas dengan hidung, bukannya lewat lubang di tenggorokan seperti sebelum operasi. Dia juga bisa memperlihatkan serangkaian ekspresi wajah, termasuk tersenyum dan mengerutkan kening.
 

Untuk sementara, si pasien masih tinggal di rumah sakit, setidaknya untuk beberapa pekan ke depan. Setelah diperkenankan pulang, perempuan itu harus menjalani check up rutin selama seumur hidupnya untuk mengantisipasi munculnya penolakan sistem imunitas tubuh terhadap wajah baru tersebut.
 

Meski memberikan kebahagiaan dan kehidupan baru bagi penerimanya, etis tidaknya transplantasi wajah masih diperdebatkan. Berbeda dengan operasi yang melibatkan organ vital seperti jantung dan hati, transplantasi wajah dianggap sekadar meningkatkan kualitas hidup, bukan memperpanjang.
 

Belum lagi risiko komplikasi mematikan yang harus dihadapi penerima transplantasi, serta kewajiban mengasup obat penekan kekebalan tubuh selama seumur hidup untuk mencegah penolakan organ. Tindakan ini berisiko terhadap kesehatan mereka karena meningkatkan peluang kanker dan infeksi.
 

Tapi, Dr Eric Kodish, kepala bioetika rumah sakit itu, menyatakan situasi dan prosedur yang dilakukan dalam proses donasi dan pencangkokan tersebut berada di luar jangkauan kritik. "Ini sama sekali bukan bedah kosmetik," kata Kodish.

Selama empat tahun, Siemionow telah menangani puluhan korban luka bakar dan kandidat potensial pencangkokan wajah lainnya. Dia juga menyempurnakan teknik pencangkokan dengan berlatih menggunakan binatang dan mayat.
 

Perempuan anonim yang terpilih menjadi pasien cangkok wajah pertama ini lolos seleksi karena lukanya begitu parah sehingga hanya kelopak mata bagian atas, dahi, bibir bawah, dan dagu yang tersisa. "Dia mendengar orang membicarakan dirinya, anak-anak ketakutan dan berlari bila dia datang," kata Siemionow. "Ketika dia ada di jalanan, orang akan memalingkan muka."
 

Sebelum transplantasi, perempuan itu sudah menjalani operasi rekonstruksi wajah di rumah sakit yang sama selama bertahun-tahun, namun penampilannya tetap tidak bisa diperbaiki. "Dia sudah lelah dengan segala bentuk rekonstruksi konvensional, dan dia adalah pasien yang tepat," tutur Siemionow.

Keluarga donor juga memberi izin spesifik atas penggunaan wajah itu, meski mereka tak bisa menggelar upacara pemakaman dengan membuka tutup peti. Penerima wajah juga tak mengetahui bagaimana wajah asli sang donor. Siemionow menyatakan wajah perempuan itu tak akan pernah mirip dengan donornya, karena struktur tulang tiap orang berbeda.
 

Kerabat penerima cangkok wajah amat gembira terhadap hasil pembedahan tersebut. Hal itu terungkap dalam surat keluarga pasien dalam situs rumah sakit yang bersangkutan. "Kami tak pernah menyangka momen ini, bahwa saudara kami punya kesempatan untuk hidup normal lagi setelah trauma yang dialaminya," isi surat itu. "Berkat orang baik yang menyumbangkan wajahnya untuk membantu umat manusia, dia punya peluang untuk menjalani kehidupan normal. Kami sangat berterima kasih."
 

Operasi semacam ini sama sekali tidak mudah. Si pasien harus menunggu selama tiga bulan untuk memperoleh donor yang usia, jenis kelamin, tipe jaringan, dan warna kulitnya sama dengan miliknya.

Keberhasilan ini membuka peluang bagi korban lainnya, termasuk para tentara yang mukanya rusak akibat peperangan. Pihak militer telah menghibahkan sejumlah dana bagi rumah sakit itu. Biaya operasi ini memang tidak kecil. Untuk transplantasi pertama tersebut, dana yang terkuras mencapai US$ 200 ribu (Rp 2,2 miliar), sebagian lagi di antaranya untuk riset karena berupa eksperimen.
 

Operasi wajah parsial pertama dilakukan di Prancis pada 2005. Penerimanya adalah perempuan 38 tahun bernama Isabelle Dinoire yang diserang oleh anjingnya. Dia memperoleh hidung, dagu, dan bibir dari donor yang mati otak. Dua penerima cangkok wajah lainnya adalah seorang petani Cina yang diserang beruang dan pria Eropa yang wajahnya cacat karena kelainan kondisi genetis.
 

0 komentar:

Posting Komentar